Jakarta, SBN – Dua bulan berlalu sejak pelaksanaan pertemuan tahunan International Monetary Fund-World Bank Group (IMF-WBG) di Bali, 8-14 Oktober 2018 lalu, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas merilis nilai Rp 5,492 Triliun sebagai dampak ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat Bali. Rp 3,05 triliun dari angka itu merupakan investasi infrastruktur yang dibangun dalam kurun 2017-2018. Sedangkan sisanya Rp 582 miliar diperoleh dari pengeluaran peserta selama sepekan waktu penyelenggaraan.
Nilai ini didapat dari hasil kajian dampak ekonomi pelaksanaan Pertemuan Tahunan IMF-WBG yang disampaikan dalam Forum Merdeka Barat (FMB) 9 yang dihadiri Menko Maritim Luhut B. Pandjaitan sebagai Ketua Panitia Nasional Pelaksanaan Pertemuan Tahunan IMF-WBG dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Kantor Bappenas, Jakarta, Selasa (18/12).
Dampak positif lainnya adalah meningkatnya kepercayaan masyarakat internasional terhadap kemajuan ekonomi Indonesia. Karena kita di dunia internasional akan sangat mudah ‘menjual’ peluang di Indonesia. Tapi ingat, kita tidak akan ‘menjual’ Indonesia dengan semudah itu, sebab kita punya dignity dan akan kita lakukan itu dengan sangat cermat, lanjut Menko Luhut yang didampingi Menteri PPN Bambang Brodjonegoro.
Menko Luhut kemudian mencontohkan beberapa potensi kerja sama pengolahan nikel dan kobalt untuk bahan baku produksi baterai litium yang akan dijadikan bahan mobil listrik. Selain Menko menambahkan bahwa dirinya telah bertemu dengan Samsung, produsen elektronik terbesar di Korea Selatan untuk membangun pabrik di Indonesia. Karena loncatan teknologi dampaknya adalah kita bisa perbaiki pendidikan di wilayah setempat. Disamping adanya permintaan tenaga ahli sehingga pemerintah perlu untuk memacu penyediaan kebutuhan tenaga kerjanya.
Menko Luhut pun tengah mencermati berbagai tawaran kerja sama dengan negara lain yang kini berdatangan yang merupakan dampak tidak langsung dari pelaksanaan beberapa mega even internasional seperti pertemuan IMF-World Bank Meeting, Asian Games 2018, dan Our Ocean Conference yang sukses. Hal tersebut menjadi prospek yang positif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan, akan tetapi diakuinya memang akan membutuhkan waktu untuk dapat terwujud.
Namun demikian Menko Luhut menargetkan bahwa di tahun 2020 – 2021, Indonesia akan menikmati dampak positif tersebut. Apalagi, Indonesia saat ini sedang berencana mengembangkan green diesel yang notabene apabila berhasil dikembangkan, tentu akan mendatangakan keuntungan ekonomi yang sangat signifikan bagi Indonesia. Kalau kita bisa tingkatkan green diesel tentu akan membantu kita kurangi impor crude oil, jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menjelaskan dengan detil bahwa Indonesia telah mendapatkan beberapa keuntungan berwujud/ tangible yang antara lain berupa kesepakatan investasi dengan berbagai investor dari luar negeri. Sebanyak 14 BUMN berhasil menandatangani perjanjian kerjasama investasi dengan total nilai kesepakatan mencapai Rp 202 triliun. Bappenas pun sukses memfasilitasi kerjasama investasi dengan total nilai Rp 47 triliun. Selain dampak yang juga sangat penting yakni kemampuan Indonesia untuk berperan di dalam forum internasional, urainya.
(ist/ist




